SUBA SE SALAM SE JO NGON MOI MOI
Tampilkan postingan dengan label Local News. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Local News. Tampilkan semua postingan

Senin, 26 November 2012

Fatwa Sesat di Balik Penyerangan Hari Asyura

Siang hari bolong di gedung kecil nan sempit sebuah kampus negeri terkemuka di Makassar, beberapa anak melantunkan lagu duka.Tepat di depannya, barisan Ibu-ibu yang berdiri menangis tersendu-sendu mendengar lagu yang menceritakan perjuangan Imam Husein di padang nan gersang bernama Karbala.
 
Siang ini, tepat 1373 tahun yang lalu, Imam Husein menghembuskan nafas terakhir diterjang anak panah, tombak dan senjata tajam lainnya dari berbagai arah. Bersama keluarga dan segelintir pengikutnya, cucu Rasulullah Saw itu menunaikan tugasnya membela ajaran Islam yang dibajak oleh penguasa lalim. Putra Singa Arab ini memilih mati syahid, dari pada harus berbaiat kepada penguasa durjana yang menggunakan simbol-simbol agama untuk menindas orang lain. Dari mulut Husein terucap, "Ya Allah, terimalah pengorbanan kecil ini."
 
Di tengah suasana khidmat itu, tiba-tiba datang segelintir orang berjenggot dengan pakaian putih-putih mengacaukan konsentrasi peserta yang siap mendengarkan ceramah . Dengan nada sangar para penyerobot itu memicu kegaduhan. Suara keras memekakan telinga bergema, "Allahu Akbar, Bubarkan Syiah!!."Seruan itu disambut damai dengan lantunan salawat yang dikomando sang penceramah yang baru beberapa menit menyampaikan pidatonya.
 
Di depan anak-anak dan perempuan yang mulai diamankan panitia supaya menjauh dari massa penyerang, salah seorang pria berjenggot dengan raut muka bengis merebut microphone dan berteriak menyebut syiah sesat dengan klaim sepihak, fatwa MUI yang sudah kadaluarsa dan validitasnya dipersoalkan banyak kalangan ulama dan intelektual sendiri.
 
Batapa tidak, berbagai pertemuan nasional dan internasional telah menyatakan bahwa Syiah bagian dari Islam. Misalnya, Deklarasi Amman (9/11/2004) yang dideklarasikan bersama oleh 200 ulama dari lebih 50 negara, menegaskan bahwa mazhab Syiah (Ja'fari dan Zaidi) sebagai bagian dari Islam.
 
Di luar gedung, massa yang hendak mengikuti acara dihalau oleh gerombolan bermotor lengkap dengan helm dan pentungan. Akhirnya acara mengenang perjuangan Imam Husein membela Islam dari kooptasi penguasa zalim itu terpaksa diakhiri, meski baru berjalan 25 menitan. Peristiwa Karbala terulang dalam bentuk lain, kekerasan kembali dilancarkan atas nama agama oleh segelintir orang untuk menghentikan acara keagamaan pihak lain.
 
Sehari sebelumnya, oknum massa dari ormas Islam tertentu itu nyaris menggagalkan peringatan Asyura yang digelar di Jalan Urip Sumoharjo, Makassar. Situs Detik melaporkan, sekitar seratus anggota Front Pembela Islam (FPI) Sulawesi Selatan menyatroni gedung Graha Pena, Jumat (23/11/2012) sekitar pukul 22.30. namun aksi mereka berhasil dihalau oleh seratusan anggota Polsek Panakukang dan Satuan Brimob Polda Sulsel yang bersenjata lengkap.
 
Tampaknya, apapun acara yang dilakukan oleh orang yang berbeda dengan keyakinan mereka harus diberangus. Bagi mereka persatuan adalah penyeragaman. Dan jika berbeda harus dimusnahkan. Bahkan seminar persatuan umat Islam yang berlangsung tiga pekan lalu di Jantung Indonesia Timur itu nyaris bernasib serupa.
 
Sekitar sebulan lalu, aksi-aksi anarkis yang hampir serupa terjadi di sebuah kampus Islam negeri Jawa Timur. Dialog tentang Syiah dihentikan setengah jalan, gara-gara provokasi seorang oknum tokoh yang dikenal paling getol menyebarkan virus-virus anti persatuan Islam di seantero pulau Jawa. Oknum ini pulalah yang memprovokasi lahirnya fatwa sesat sepihak terhadap syiah.
 
Sejarawan Muslim, Muhammad Ilham Fadli memandang gelombang aksi anarkis terhadap kelompok sempalan Islam dipicu oleh fatwa sesat sepihak yang muncul beberapa tahun belakangan. Intelektual muda Minangkabau ini menilai fatwa sesat terhadap sesama mazhab Islam itu muncul baru sekitar sepuluh tahunan terakhir. "Ini tidak ada preseden sejarahnya," tutur Sekjur sejarah peradaban Islam IAIN Imam Bonjol Itu.
 
Bagi dosen politik Islam ini, para ulama dahulu seperti HAMKA tidak pernah mengeluarkan fatwa sesat terhadap Ahmadiyah, apalagi Syiah. Menurutnya, fatwa sesat terhadap Syiah muncul belakangan karena ulama terkooptasi politik penguasa. "Ada kepentingan salah satu parpol yang menjual isu penyesatan ini, "pungkasnya. 

Sumber: (IRIB Indonesia/Purkon Hidayat)

Aksi Garang Oknum Ormas Islam, Gagalkan Asyura di Makassar

Acara peringatan Asyura warga Syiah di Nusantara kembali digagalkan oleh aksi garang sejumlah oknum yang mengatasnamakan ormas Islam.

Warga Syiah Makassar yang sedang memperingati syahadah Imam Husein as di Karbala, pada hari kesepuluh bulan Muharram atau Asyura, merencanakan dua event, pertama orasi dan pembacaan doa di plyover Graha Pena dengan tema "Derita Tanpa Ujung dari Karbala ke Gaza". Acara dimulai pukul sembilan pagi hingga pukul 11. Acara berjalan lancar.

Acara kedua, yaitu ceramah dan pembacaan maqtal (narasi duka Imam Husein as di Karbala), digelar di Gedung Pusat Penelitian Universitas Hasanuddin Makassar.

Namun acara kedua yang baru dimulai sekitar 25 menit itu, diinterupsi oleh sekelompok orang yang menyelonong  masuk membawa pentungan dan membubarkan jemaah.

Sebelumnya, situs Detik melaporkan sekitar seratus anggota Front Pembela Islam (FPI) Sulawesi Selatan mendatangi gedung Graha Pena, di Jalan Urip Sumoharjo, Makassar, Jumat (23/11/2012) sekitar pukul 22.30. Massa FPI mencoba membubarkan peringatan Asyura yang diselenggarakan salah satu kelompok Syiah di Makassar.

Peringatan Asyura yang diselenggarakan Ikatan Jamaah Ahlul Bait Indonesia (IJABI) untuk memeringati gugurnya cucu Nabi Muhammad, Imam Husein Bin Ali yang syahid di Karbala pada 10 Muharram di abad pertama tahun hijriyah. Peringatan itu menghadirkan pentolan IJABI, Prof Jalaluddin Rakhmat.

Untungnya, aksi massa FPI Sulsel yang hendak merangsek masuk ke lantai II Graha Pena berhasil dihalau oleh seratusan anggota Polsek Panakukang dan Satuan Brimob Polda Sulsel yang bersenjata lengkap. Sempat terjadi insiden saling lempar antara massa FPI dan kelompok Syiah, namun berhasil diredam oleh aparat. 

Sumber: (IRIB Indonesia)

Sabtu, 24 November 2012

Warga Indonesia Demo Kedubes AS Protes Agresi Brutal Israel

Pembantaian warga gaza oleh Israel menghasilkan 160 warga Palestina tewas dan melukai sekitar 1.200 orang, sejak meletus pada 14 November lalu. setelah Pasca perang selama 8 hari antara rezim Zionis Israel dan muqawama Palestina, akhirnya gencatan senjata terjadi. Berdasarkan nota kesepakatan gencatan senjata, kedua pihak tidak boleh menyerang kawasan yang dikuasainya. Dibukanya kembali jalur-jalur penyeberangan yang menghubungkan Gaza dan kemudahan lalu-lalang orang dan masuknya barang ke Gaza merupakan isi dari kesepakatan itu. Gencatan senjata antara Zionis Israel dan Hamas dilakukan lewat mediasi Mesir.
 
Sementara itu di Indonesia hari ini (Jumat, 23/11) Jalan Merdeka depan Gedung Kedutaan Besar AS, sejumlah massa mengadakan acara "Peringatan Asyura dan Demo solidaritas untuk Palestina". Sekitar 500 massa gabungan dari Voice of Palestina (VOP),  Indonesian Solidarity for Palestine, Asian People's Solidarity with Palestine (APSP), Garda Suci Merah Putih, Zaenab Asosiation. Sekitar 50 masa dari PMII,  juga ikut bergabung dalam acara tersebut.
 
Dalam orasinya direktur Voice of Palestina (VOP), Ir. Mujtahid Hashem mengeluarkan beberapa pernyataan:
 
1. Mengutuk zionis karena telah membantai 160 warga gaza selama 8 hari.
2. Amerika sebagai sponsor Israel harus bertanggung jawab.
3. Posisi letak kedutaan besar Amerika di Jakarta  harus dipindah karena mengancam keamanan dan kedaulatan Indonesia. Lokasi kedubes AS berdekatan dengan gedung Telkom sehingga bisa menyadap semua informasi warga Indonesia, dekat dengan Istana negara sehingga jantung pemerintah dalam ancaman, selain itu kantor Kedubes AS berdiri di tanah yang belum mengantongi surat Ijin Mendirikan Bangunan (IMB).

Sementara itu Musadiq, salah satu peserta demo  mengutuk aksi keji Israel dan menyesalkan negara-negara arab yang diam saja tidak membantu persenjataan dan dana kepada warga Gaza, padahal mereka mempunyai kesamaan ideologi, ras arab, dan sama-sama bermazhab Sunni.
 
Hisam, ketua Solidaritas Muslim untuk Al-QUDS (SMIQ)  sekaligus korlap mengatakan, "Israel melakukan gencatan senjata setelah membantai 160 warga Palestina, dan sekarang  menunda peperangan karena sedang menunggu rudal patriot dari Amerika."
 
Menurut Kiki, musisi pro Palestina yang juga ikut demo berpendapat lain, meski banyak bangunan hancur dan 160 warga Gaza jadi syuhada, kemenangan tetap menjadi milik kaum muqawama. Karena sedang memperjuangkan kebenaran dan Israel  sebagai pihak pecundang.
 
Setelah acara selesai peserta demo nampak mulai meninggalkan lokasi dan bergantian masa dari FPI (Front Pembela Islam) mulai berdatangan sekitar 1000 massa dengan tema yang serupa. 

Sumber: (IRIB Indonesia)